Rabu, 23 Oktober 2013

Evaluasi Alternatif Sebelum Pembelian



BAB 1
PENDAHULUAN
1.1     Latar Belakang 
      Evaluasi alternatif merupakan suatu proses dimana suatu alternatif pilihan dievaluasi dan dipilih oleh
konsumen. Pada tahap evaluasi konsumen harus :

  1. Menentukan criteria yang akan digunakan untuk menilai alternatif. 
  2. Memutuskan alternatif mana yang akan dipertimbangkan. 
  3. Menilai kinerja dan laternatif yang dipertimbangkan. 
  4. Memilih dan menerapkan kaidah keputusan untuk membuat pilihan akhir.

Philip kotler mengemukakan,” konsumen mempelajari merek-merek yang tersedia dan ciri-cirinya. Informasi ini digunakan untuk mengevaluasi semua alternatif yang ada dalam menentukan keputusan pembeliannya.
Alternatif membeli atau tidak membeli produk tertentu, dipengaruhi oleh pertimbangan atribut produk, yaitu: manfaat, kepentingan, image, dan fungsi yang diharapkan. Pertimbangan tersebut seringkali diperbandingkan antara manfaat yang diperoleh dengan biaya yang akan dikeluarkan untuk memperoleh atau setelah membeli barang tersebut. Mempertimbangkan untuk membeli mobil kedua adalah pilihan antara keleluasaan pemakaian dan tambahan investasi maupun biaya perawatan.
Kriteria yang digunakan konsumen selama pengambilan keputusan akan tergantung pada beberapa faktor, diantaranya:
  1. Pengaruh situasi 
  2. Kesamaan alternatif-alternatif pilihan 
  3. Motivasi 
  4. Keterlibatan 
  5. Pengetahuan


1.2     RUMUSAN MASALAH
1.2.1 Apa saja kriteria evaluasi dalam pengambilan keputusan pembelian?
1.2.2 Apa saja penentuan alternatif pilihan sebelum pembelian?
1.2.3 Apa saja penaksiran alternatif pilihan dalam pengambilan keputusan konsumen?
1.2.4 Bagaimana menyeleksi aturan pengambilan keputusan?
1.3     TUJUAN PENULISAN
1.3.1 Mengetahui kriteria evaluasi
1.3.2 Mengetahui penentuan alternatif pilihan
1.3.3 Mengetahui penaksiran alternatif pilihan
1.3.4 Mengetahui penyeleksian aturan pengambilan keputusan

BAB 2
PEMBAHASAN
2.1 Kriteria Evaluasi 
      Kriteria evaluasi berisi dimensi atau atribut tertentu yang digunakan dalam manila alternatif-alternatif pilihan, kriteria alternatif dapat muncul dalam berbagai bentuk, misalnya dalam membeli handphone seorang konsumen mungkin mempertimbangkan kriteria harga, merek, Negara asal dan  juga spek hedonik seperti gengsi, kebahagiaan, kesenangan, dan sebagainya.  

1. Harga
         Harga menentukan pemilihan alternatif. Konsumen cenderung akan memilih harga yang murah untuk suatu produk yang ia tahu spesifikasinya. Namun jika konsumen tidak bisa mengevaluasi kualitas produk maka harga merupakan indikator kualitas. Oleh karena itu strategi harga hendaknya di sesuaikan dengan karakteristik produk.

2. Nama Merek
         Merek terbukti menjadi determinan dalam setiap pembelian. Nampaknya merek merupakan pengganti dari mutu dan spesifikasi produk. Ketika konsumen sulit menilai criteria kualitas produk kepercayaan pada merek lama yang sudah memilki reputasi sangat baik dapat mengurangi kesalahan dalam pembelian.

3. Negara Asal
   Negara asal dimana produk di hasilkan menjadi pertimbangan penting dikalangan konsumen Negara asal sering menctrikan kualitas produk. Konsumen mungkin sudah tidak meragukan lagi kualitas produk elektronik jepang. Sementara untuk jam tangan nampaknya buatatn swiss merupakan produk yang handal tak teragukan. 

2.2 Menentukan Alternatif Pilihan 
     Keputusan untuk membeli yang diambil oleh pembeli itu sebenarnya merupakan kumpulan dari sejumlah keputusan. Setiap keputusan membeli mempunyai beberapa komponen :

  • Keputusan tentang jenis produk 
  • Keputusan tetang bentuk produk 
  • Keputusan tetang merek 
  • Keputusan tetang penjualnya 
  • Keputusan tetang jumlah produk 
  • Keputusan tetang waktu pembelian 
  • Keputusan tetang cara pembayarannya

Mengevaluasi alternatif, setelah konsumen mendapat berbagai macam informasi, konsumen akan menentukan alternatif yang ada untuk mengatasi permasalahan yang dihadapinya. Setelah criteria yang akan menjadi alternatif pilihan ditetukan barulah konsumen menentukan alternatif produk yang menjadi pilihan.

2.3 Menaksirkan Alternatif pilihan
      Ada tiga cara pandang dalam menganalisis alternatif keputusan konsumen :
1. Sudut pandang ekonomis
       Konsumen sebagai orang yang membuat keputusan secara rasional, yang mengetahui semua alternatif produk yang tersedia dan harus mampu membuat peringkat dari setiap alternatif yang ditentuka dipertimbangkan serta harus dapat mengidentifikasikan satu alternatif yang terbaik disebut ekonomik man.

2. Sudut pandang kognitif
       Konsumen sebagai kognitif man atau sebagai problem solver. Konsumen merupakan pengolah informasi yang selalu mencari dan mengevaluasi informasi tetang produk. Pengolah informasi selalu berujung pada pembentukan pilihan, tejadi inisiatif untuk membeli atau menolak produk. Kognitif man dan passive man, sering kali kognitif man punya pola respon terhadap informasi yang berlebihan dan sering kali mengambil jalan pintas untuk memenuhi pengambilan  keputusannya pada keputusan yang memuaskan.

3. Sudut pandang emosional
   Menekankan emosi sebagai pendorong utama, sehingga konsumen membeli suatu produk. Favoritism buktinya seseorang berusaha mendapatkan produk favoritnya, apapun yang terjadi. Benda-benda yang menimbulkan kenangan juga dibeli berdasarkan emosi. Anggapan emotional man itu tidak rasional adalah tidak benar. Mendapatkan produk yang membuat perasaannya lebih baik merupakan keputusan yang rasional.

2.4 Menyeleksi Aturan Pengambilan Keputusan
Dalam menyeleksi aturan pengambilan keputusan terdapat suatu hal yang perlu diperhatikan, yang paling utama adalah yang paling penting dalam memenuhi berbagai kriteria yang dapat dicapai oleh produk tersebut agar dapat memuaskan konsumen. Keputusan konsumen untuk membeli atau tidak membeli suatu produk atau jasa merupakan saat yang penting bagi pemasaran. Keputusan ini dapat menandai apakah suatu strategi pemasaran telah cukup bijaksana, berwawasan luas, dan efektif, atau apakah kurang baik direncanakan atau keliru menetapkan sasaran. Keputusan merupakan seleksi terhadap dua pilihan alternative atau lebih.
Riset konsumen eksperimental mengungkapkan bahwa menyediakan pilihan bagi konsumen ketika sesungguhnya tidak ada satu pun pilihan, dapat dijadikan strategi bisnis yang tepat, strategi tersebut dapat meningkatkan penjualan dalam jumlah yang sangat besar.
Teori-teori pengambilan keputusan konsumen bervariasi, tergantung kepada asumsi peneliti mengenai sifat-sifat manusia. Terdapat empat pandangan atas pengambilan keputusan konsumen:
1. Pandangan ekonomi, konsumen sering dianggap sebagai pengambil keputusan yang rasional.
2. Pandangan pasif, menggambarkan konsumen sebagai orang yang pada dasarnya tunduk pada kepentingan melayani diri dan usaha promosi para pemasar. Para konsumen dianggap sebagai pembeli yang menurutkan kata hati dan irasional.
3. Pandangan kognitif, menggambarkan konsumen berada diantara pandangan ekonomi dan pandangan pasif yang ekstrim, yang tidak (atau tidak dapat) memperoleh pengetahuan yang mutlak mengenai semua alternatif produk yang tersedia dan karena itu tidak dapat mengambil keputusan yang sempurna, namun secara aktif mencari informasi dan berusaha mengambil keputusan yang memuaskan.
4. Pandangan emosional, mengambil keputusan yang emosional atau impulsive (menurutkan desakan hati).


DAFTAR PUSTAKA
http:// irnawatiindah.blogspot.com/2012/10/evaluasi-alternatif-sebelum-pembelian.html

Rabu, 16 Oktober 2013

DIA

Mengapa dengan Dia?
Karena Dia hidupku tak karuan...
Karena Dia hidupku berubah...
Karena Dia hidupku jadi lebih baik...

Seperti apakah Dia?
Dia yang baik...
Dia yang cantik...
Dia berbeda dari yang lain...

Taukah anda?
Dia yang selalu ada dalam mimpiku...
Dia yang selalu ada dipikiran ku...
Dia... Dia... dan Dia...

Siapakah Dia?
Dia yang kucintai...
Dia yang kusayangi...
Dia adalah Kamu

Karangan : Hendro Budiyono

Proses Pengambilan Keputusan Oleh Konsumen



BAB 1
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Pengambilan keputusan secara universal didefinisikan sebagai pemilihan diantara berbagai alternative. Pengertian ini mencakup baik pembuatan pilihan maupun pemecahan masalah. Pengambilan keputusan itu sendiri merupakan suatu proses beruntun yang memerlukan penggunaan model secara tepat. Menurut Herbert A. Simon, Proses pengambilan keputusan pada hakekatnya terdiri atas tiga langkah utama, yaitu : 

  1. Kegiatan Intelijen : Menyangkut pencarian berbagai kondisi lingkungan yang diperlukan bagi keputusan. 
  2. Kegiatan Desain : Tahap ini menyangkut pembuatan pengembangan dan penganalisaan berbagai rangkaian kegiatan yang mungkin dilakukan. 
  3. Kegiatan Pemilihan : Pemilihan serangkaian kegiatan tertentu dari alternative yang tersedia.

      Sedangkan menurut Scott dan Mitchell, Proses pengambilan keputusan meliputi:
      Proses pencarian/penemuan tujuan
  1. Formulasi tujuan 
  2. Pemilihan Alternatif 
  3. Mengevaluasi hasil-hasil
Pendekatan konperhensif lainnya adalah dengan menggunakan analisis system, Menurut ELBING ada lima langkah dalam proses pengambilan keputusan:
  1. Identifikasi dan Diagnosa masalah
  2. Pengumpulan dan Analisis data yang relevan
  3. Pengembangan dan Evaluasi alternative alternative
  4. Pemilihan Alternatif terbaik
  5. Implementasi keputusan dan Evaluasi terhadap hasil-hasil
Pentingnya model dalam suatu pengambilan keputusan, antara lain sebagai berikut:
1.      Untuk mengetahui apakah hubungan yang bersifat tunggal dari unsur - unsur itu ada relevansinya terhadap masalah yang akan dipecahkan/diselesaikan itu.
2.      Untuk memperjelas ( secara eksplisit ) mengenai hubungan signifikan diantara unsure -unsur itu.
3.      Untuk merumuskan hipotesis mengenai hakikat hubungan - hubungan antar variable. Hubungan ini biasanya dinyatakan dalam bentuk matematika.
4.      Untuk memberikan pengelolaan terhadap pengambilan keputusan.
Pengambilan keputusan itu sendiri merupakan proses yang membutuhkan penggunaan model yang tepat. Pengambilan keputusan itu berusaha menggeser keputusan yang semula tanpa perhitungan menjadi keputusan yang penuh perhitungan.

1.2  Rumusan Masalah
1.2.1 Apa saja model model proses pengambilan keputusan ?
1.2.2 Apa saja tipe tipe proses pengambilan keputusan ?
1.2.3 Apa saja faktor faktor yang mempengaruhi pemecahan masalah ?
1.2.4 Bagaimana pengambilan keputusan untuk pembelian ulang ?
1.2.5 Mengapa melakukan diagnosa terhadap perilaku konsumen ?
1.3  Tujuan Penulisan
1.3.1 Memahami model – model proses pengambilan keputusan
1.3.2 Memahami tipe – tipe proses pengambilan keputusan
1.3.3 Mengetahui faktor – faktor yang mempengaruhi pemecahan masalah 
1.3.4 Memahami pengambilan keputusan untuk pembelian ulang
1.3.5 Melakukan diagnosa terhadap perilaku konsumen

BAB 2
PEMBAHASAN
2.1 Model - Model Pengambilan keputusan
A. Model Perilaku Pengambilan keputusan 
  • Model Ekonomi, yang dikemukakan oleh ahli ekonomi klasik dimana keputusan orang itu rasional, yaitu berusaha mendapatkan keuntungan marginal sama dengan biaya marginal atau untuk memperoleh keuntungan maksimum. 
  • Model Manusia Administrasi, Dikemukan oleh Herbert A. Simon dimana lebih berprinsip orang tidak menginginkan maksimalisasi tetapi cukup keuntungan yang memuaskan. 
  • Model Manusia Mobicentrik, Dikemukakan oleh Jennings, dimana perubahan merupakan nilai utama sehingga orang harus selalu bergerak bebas mengambil keputusan. 
  • Model Manusia Organisasi, Dikemukakan oleh W.F. Whyte, model ini lebih mengedepankan sifat setia dan penuh kerjasama dalam pengambilan keputusan.
  •  Model Pengusaha Baru, Dikemukakan oleh Wright Mills menekankan pada sifat kompetitif. 
  • Model Sosial, Dikemukakan oleh Freud Veblen dimana menurutnya orang seringb tidak rasional dalam mengambil keputusan diliputi perasaan emosi dan situsai dibawah sadar.
B. Model Preskriptif dan Deskriptif 
Fisher mengemukakan bahwa pada hakekatnya ada 2 model pengambilan keputusan, yaitu: 
  • Model Preskriptif, Pemberian resep perbaikan, model ini menerangkan bagaimana kelompok seharusnya mengambil keputusan.  
  • Model Deskriptif, Model ini menerangkan bagaimana kelompok mengambil keputusan tertentu.
Model preskriptif berdasarkan pada proses yang ideal sedangkan model deskriptif berdasarkan pada realitas observasi.
Model Kuantitatif, ( dalam hal ini adalah model matematika ) adalah serangkaian asumsi yang tepat yang dinyatakan dalam serangkaian hubungan matematis yang pasti. Ini dapat berupa persamaan, atau analisis lainnya, atau merupakan intruksi bagi computer yang berupa program-program untuk computer. Adapun ciri-ciri pokok model ini ditetapkan secara lengkap melalui asumsi-asumsi dan kesimpulan berupa konsekuensi logis dari asumsi-asumsi tanpa menggunakan pertimbangan atau instuis mengenai proses dunia nyata ( praktik ) atau permasalahan yang dibuat model untuk pemecahannya.
Model Kualitatif, berdasarkan atas asumsi-asumsi yang ketepatannya agak kurang jika dibandingkan dengan model kuantitatif dan ciri-cirinya digambarkan melalui kombinasi dari deduksi-deduksi asumsi-asumsi tersebut dengan pertimbangan yang lebih bersifat subjektif mengenai proses atau masalah yang pemecahannya dibuatkan model. Gullet dan Hicks memberikan beberapa klasifikasi model pengambilan keputusan yang kerapkali digunakan untuk memecahkan masalah yang seperti itu ( yang hasilnya kurang diketahui dengan pasti ).

2.2 Tipe – Tipe Proses Pengambilan Keputusan
Tipe Pengambilan keputusan ( Decision making) : adalah tindakan manajemen dalam pemilihan alternative untuk mencapai sasaran.
Keputusan dibagi dalam 3 tipe :
  1. Keputusan terprogram/keputusan terstruktur : keputusan yang berulang – ulang dan rutin, sehingga dapat diprogram. Keputusan terstruktur terjadi dan dilakukan terutama pada manjemen tingkat bawah. Cotoh : keputusan pemesanan barang, keputusan penagihan piutang, dll.
  2. Keputusan setengah terprogram/setengah terstruktur : keputusan yang sebagian dapat diprogram, sebagian berulang – ulang dan rutin dan sebagian tidak terstruktur. Keputusan ini seringnya bersifat rumit dan membutuhkan perhitungan – perhitungan serta analisis yang terperinci. Contoh : Keputusan membeli sistem komputer yang lebih canggih, keputusan alokasi dana promosi.
  3. Keputusan tidak terprogram/ tidak terstruktur : keputusan yang tidak terjadi berulang – ulang dan tidak selalu terjadi. Keputusan ini terjadi di manajemen tingkat atas. Informasi untuk pengambilan keputusan tidak terstruktur tidak mudah untuk didapatkan dan tidak mudah tersedia dan biasanya berasal dari lingkungan luar.
2.3 Faktor – Faktor yang Mempengaruhi Pemecahan Masalah 
  1. Trial & error : Coba dan salah. Cara ini merupakan metode yang paling rendah tingkatannya, dilakukan oleh orang yang belum pernah mengalami/ mengenal dan belum tahu sama sekali. Dalam keperawatan ini sangat berbahaya dan tidak boleh dilakukan. Contohnya : ada klien panas, dicoba diurut, dicoba diberi makan, dicoba ditiup, tdk berhasil dicoba diberi minum, dibuka baju, diberi kompres sampai berhasil panasnya turun, dll. 
  2. Intuisi : penyelesaian masalah dengan intuisi atau naluri/ bisikan hati. Penyelesaian dengan cara ini kurang dianjurkan dalam metode ilmiah, karena tidak mempunyai dasar ilmiah.   Kadang-kadang metode ini juga dapat memberikan jalan keluar bila intuisi ini berdasarkan analisis atau pengalaman, dan pengetahuan yang dimiliki.
  3.  Nursing process : Proses keperawatan merupakan suatu langkah penyelesaian masalah yang sistematis dan didukung oleh rasionalisasi secara ilmiah meliputi : pengkajian, perencanaan, implementasi dan evaluasi yang merupakan suatu siklus untuk mengatasi masalah yang terjadi pada klien. 
  4. Scientifik methode/Research Process  : Proses riset/ penelitian merupakan suatu penyelesaian masalah berdasarkan hasil penelitian dengan menggunakan logika, dengan pendekatan yang sistematis
2.4 Pengambilan Keputusan untuk Pembelian Ulang
Dengan melakukan pembelian Produk mie instan sebagaimana diketahui adalah salah satu produk makanan cepat saji yang semakin lama semakin banyak digemari masyarakat karena kemudahan dalam hal penyajiannya. Demikian juga bagi kalangan mahasiswa yang sebagian besar berdomisili jauh dari orang tua, produk ini merupakan makanan cepat saji yang biasa dikonsumsi karena harganya yang terjangkau, mudah didapatkan dan sifatnya yang tahan lama. Dengan semakin banyaknya mie instan yang ada di pasaran berarti memberikan keleluasaan bagi konsumen untuk memilih merk yang sesuai dengan keinginannya.
     Oleh karena itu perlu bagi perusahaan untuk menganalisis perilaku konsumen mie instan untuk mengetahui pola pembeliannya. Dengan banyaknya merk mie instan yang ada di pasaran akan mendorong perusahaan bersaing mendapatkan calon konsumen melalui berbagai strategi yang tepat, misalnya mengubah kemasan, warna, aroma, promosi dan harga. Lebih jauh lagi produsen dalam mendistribusikan produknya ke pasar konsumen berusaha agar produknya dapat diterima sesuai dengan apa yang diinginkan konsumen.

2.5 Diagnosa Terhadap Perilaku Konsumen
Persaingan dalam dunia bisnis dimasa sekarang baik di pasar dalam negeri/domestik mapun di pasar luar negeri. Apalagi negara Indonesa yang telah melakukan Asean Free Trade Area (AFTA) pada tahun 2002, hal ini berarti pelaku bisnis yang ada di dalam negeri selain mereka harus bersaing dengan pelaku bisnis lokal mereka juga bersaing dengan pelaku bisnis luar negri karena mereka telah dibebaskan bea masuk produk yang mereka tawarkan di pasar dalam negeri. untuk mengenakan persaingan, perusahaan harus mampu memberikan kepada para pelanggannya, misalnya dengan memberikan produk yang mutunya lebih baik, harganya baik, pelayanannya lebih baik dari para pesaingnya.

Tidak sedikit orang yang bingung memilih bank yang tepat. Maraknya iklan perbankan yang juga mensponsori beberapa acara televisi membuat masyarakat awam bingung menabung dibank mana. Banyak masyarakat terjebak pada bunga menggiurkan, fasilitas Phone banking (layanan informasi perbankan melalui telepon genggam), kerja sama dengan beberapa bank lain, layanan satu atap serta layanan lain yang diiming-imingi iklan, televisi dan media cetak. Setelah terpikat oleh janji-janji tersebut akhirnya mereka harus menyesal menjadi nasabah tersebut.

Deregulasi finansial di Indonesa dimulai dengan dikeluarkannya paket juni 1983. kebijakan ini merupakan kebijakan awal yang memberi kebebasan kepada dunia perbankan. Tujuan dari kebijakan ini adalah untuk mendorong dan meningkatkan efisiensi dan profesionalisme melalui terciptanya mekanisme pasar yang sehat di bidang manajemen dana bank.Dalam kondisi yang demikian bank tidak boleh hanya duduk
menunggu datangnya nasabah, bank dituntut untuk bersikap lebih agresif dan bekerja lebih profesional, sehinggga mampu untuk menjabarkan situasi yang sedang dihadapi dan mampu melihat kedepan sehingga para nasabah akan merasa bahwa bank merupakan penasehatnya yang lebih terpecaya. Hal ini harus didukung dengan peningkatan pelayanan terhadap nasabah.

Persaingan perbankan nasional menjadi semakin ketat. Pesaing bank bukan hanya sesama bank, baik bank nasional maupun bank asing, tetapi juga dengan lembaga keuangan bukan bank. Seperti modal Ventura, leasing dan lembaga pembiayaan lainnya. Disisi lain dengan perkembangan dan berubahnya masyarakat akan berpengaruh pada tingkah laku masyarakat (konsumen). Perbankan dituntut untuk dapat melakukan segmentasi pasar didasarkan pada kebutuhan konsumen (nasabah) dan segmentasi kejiwaan. Berdasarkan hal-hal tersebut diatas dapat dikemukakan bahwa dengan semakin ketatnya persaingan antara bank tersebut muncul permasalahan baru yaitu kebutuhan produsen (perbankan) dipasar berupa perebutan untuk mendapartan tempat dihati konsumen yang merupakan salah satu aspek yang cukup mendasar bagi sektor perbankan untuk dapat tetap survive.

Oleh karena itu kepuasan konsumen merupakan masalah penting yang harus diperhatikan oleh perusahaan termasuk bank. Perilaku konsumen mencerminkan mengapa seseorang konsumen membeli suatu produk dan bagaiamana konsumen itu memilih dan membeli suatu produk. Konsumen akan membeli suatu produk untuk memenuhi kebutuhan yang diharapkannya. Oleh karena itu seorang konsumen akan memilih barang yang memenuhi harapannya.

Dengan mengkaji perilaku konsumen perusahaan dapat mengetahui tentang hasil diagnosa siapa dan apa serta bagaimana kebenaran tentang pemakaian suatu poduk. Dari perilaku konsumen menyenangi produk saingan dan kurang menyenangi produk yang dihasilkan suatu perusahaan. Misalnya mengapa seorang nasabah lebih suka mendepositokan uangnya di bank mandiri atau bank BTN dari pada BCA atau bank swasta lainnya, hal tersebut dapat diketahui dari perilaku konsumen.


DAFTRA PUSTAKA
http://sugenk.staff.gunadarma.ac.id
http://dedenur.wordpress.com
http://www.wattpad.com
http://maryamspkom.wordpress.com